Istirahatlah dengan Tenang, Wahai Jiwa yang Menutup Rasa Sakit dengan Senyuman
Istirahatlah dengan Tenang, Wahai Jiwa yang Menutup Rasa Sakit dengan Senyuman
(Satu Tahun Kepergian Papa)
Dua hari sebelum peristiwa dahsyat tiba, seorang cinta pertama untuk anak perempuannya, dalam pengharapannya ribuan kalimat doa di munajatkan, ribuan kalimat harapan dilantunkan, ribuan kata “Ayo pa, papa bisa sembuh” terus diucapkan, Sungguh tidak ada yang dipinta selain papa sembuh ceria seperti sedia kala. Pulang dan berkumpul secara bersama, merajut dan kembali melanjutkan segala cerita.
Azhan Ashar berkumandang, disaat kondisi tangan masih terpangsang infus, tak henti-hentinya “papa” menampakkan senyuman seakan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tidak pernah sekalipun menampakkan rasa sakit, rasa lelah yang ada hanya senyum yang melukis wajah indah. Menjadi saksi perjuangan papa, melihat secara kasat mata bagaimana tangan yang selalu mencari nafkah ditusuk jarum, harusnya kalimat “sakit” terlontarkan namun nyatanya wajah indahnya melukiskan senyuman.
Riuh dalam ketidakkaruan, awal yang mencemaskan dan tidak ada lagi keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, keadaan semakin darurat. Tak terlintas sedikit pun bahwa tepat setelah Ba’da ashar bahwa “papa” akan memakai alat bantu pernafasan, deruan nafas yang sudah tidak teratur, harap cemas dalam hitungan sekian detik kondisi “papa” berubah. Ketakutan demi ketakutan mengelilingi pikiran, terlintas dalam benak “Apa papa masih bisa sembuh?”, “tapi apapun yang terjadi papa harus sembuh, yaa papa harus sembuh”.
Mengenggam tangan “papa”, meladfazkan segala bentuk doa terbaik dan berharap diberikan takdir ajaib. Sungguh tiada yang dipinta selain nikmat sehat untuk “papa”, jika boleh bertukar diri ini ikhlas menggantikan rasa sakit yang ditanggung papa. Anak mana yang kuat melihat sosok cinta pertamanya terpasang alat bantu oksigen pada hidung, tangan yang ditusuk berkali-kali karena denyut nadi yang tidak terdeteksi. Rasanya tiada yang menyanggupinya dalam hal yang terlihat kuat dan kondisi yang baik-baik saja, yang terlintasnya hanya bagaimana jika takdir buruk menyapa.
Obat demi obat telah dikonsumsi selama berbulan-bulan, segala bentuk ikhtiar telah dilakukan, namun Takdir Allah SWT sangat luar biasa yang dulunya hanya rawat jalan ternyata rumah sakit meminta kehadiran “papa” sebagai pasien opname-nya. Sepintas berpikir ini jalan untuk kesembuhan bukan jalan untuk perpisahan, sungguh kami ikhlas saat papa terbaring diatas brankar.
Namun esok harinya tepat azan zuhur berkumandang Allah SWT sangat merindui papa, tiada lagi rasa sakit yang ditanggung segala bentuk usaha telah dinyatakan sampai digaris finish, garis takdir telah terbentang tiada satu pun yang bisa mengelaknya, perjanjian telah didepan mata bahwa hari Kamis, 12 Agustus 2021 "papa" dinyatakan sudah tiada. Suara tangisan menggemakan ruangan, kaki yang berpijak ditanah seperti menghadang gempa besar, luapan masa silih beganti datang, pelukan hangat dan kalimat penguat silih berganti dilontarkan. Ternyata meski kita punya ingin papa sembuh tapi lagi-lagi Allah punya izin segalanya. Menghadap Allah SWT dengan senyuman seakan menjadi penguat bahwa beliau sosok orang yang baik, tiada kesusahan yang dirasakan saat mengahadapi sakratul mautnya. Meski diujung nafas beliau hanya berpesan "Percaya akan Takdir-Nya nak, Lanjutkan segala cita-cita dan mimpi-mimpi kalian". Kalimat sederhana inilah menjadi penguat langkah untuk tidak lemah.
Saya kehilangan raganya tapi tidak dengan segala kebaikan yang pernah ditorehkannya,
Meski gundukan tanah telah menjadi pembantas
Batu Nisan sebagai landasan percakapan
Tiada absen hati setiap hari untuk merindu
Wahai jiwa yang penuh perjuangan
Menutup rasa sakit dengan senyuman
Istirahatlah dengan tenang
Tiada yang bisa dilakukan selain menggapai tali keimanan
Dalam balutan keikhlasan menerima takdir yang telah Allah SWT Tetapkan.
Yossi Darmayanti

You are such as good daughter. Your father is very proud of you getting a daughter as a stronger girl. Get your dreams and your father dreams come true. He's gonna proud of you up there. Wish you all the best dear. May Allah bless you and your extended.
BalasHapusHi wanita kuat, cepatlah kembali ke ranah Minang, banyak cerita perjalanan yg ingin saya sampaikan,sebelum perpisahan kembali datang
BalasHapusWhy you don't just tell her your journey by call or text. If she haven't done her duties yet, why she have to back to your place earlier. Let her learning there and bring a bunch of knowledge then. Don't force her to much Mrs. Ven.
HapusThis is my business, we don't know each other, so don't interfere, you just mind your business with him, and I take care of mine, don't interfere.
HapusIt sounds arrogant Lol
Hapus